:strip_icc()/kly-media-production/medias/4722987/original/002875100_1705908896-IMG-20240122-WA0015.jpg)
Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan tegas membantah isu serangan drone bomber di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, yang dikabarkan menyebabkan satu warga meninggal dunia dan satu lainnya luka-luka. Informasi mengenai insiden ini beredar luas di media sosial, menuding aparat TNI-Polri sebagai pelaku serangan pada Selasa malam, 25 November 2025, sekitar pukul 21.00 atau 22.00 WIT.
Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih, Letkol Inf Tri Purwanto, membantah keras tuduhan tersebut. Ia menyatakan bahwa dari hasil koordinasi, tidak ada aktivitas pergerakan drone dari aparat TNI-Polri pada tanggal 25 November 2025. "Informasi tersebut tidak benar dan berpotensi memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat," kata Letkol Tri Purwanto.
Menurut laporan yang beredar, insiden itu terjadi di sebuah rumah warga sipil di Jalan Gunung, Kota Dekai, Kabupaten Yahukimo, di mana sebuah drone disebut-sebut menyerang kompleks Distrik Duram. Akibat serangan ini, seorang pelajar SMA bernama Listin Sam, yang juga diidentifikasi sebagai Listin Atin Sam alias Bulmak Sam (17), dilaporkan meninggal dunia setelah sempat dilarikan ke RSUD Dekai. Korban lainnya, Masyarakat Dapla (18) atau Yondinus Dapla, mengalami luka-luka dan saat ini dirawat di RS Dekai. Kedua korban dilaporkan sedang tidur di kamar saat kejadian. Human Right Defender (HRD) bahkan meminta TNI dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) untuk tidak melibatkan masyarakat sipil dalam serangan.
Terkait ledakan yang menimbulkan korban jiwa dan luka tersebut, Letkol Tri Purwanto menyampaikan bahwa dugaan awal mengarah pada kemungkinan berasal dari bahan peledak rakitan atau molotov yang gagal dibuat saat dirakit.
Saat ini, TNI-Polri masih terus melakukan penyelidikan mendalam di lapangan untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut. Letkol Tri Purwanto mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terbukti kebenarannya dan menunggu hasil investigasi resmi.