:strip_icc()/kly-media-production/medias/5418000/original/057849100_1763557800-WhatsApp_Image_2025-11-19_at_19_28_07.jpeg)
Lumajang, Jawa Timur - Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali meningkat signifikan, mendorong warga di zona merah untuk segera mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman. Per Rabu, 26 November 2025, status Gunung Semeru masih berada di Level IV atau Awas, tingkat tertinggi dalam sistem peringatan gunung api. Pemerintah Kabupaten Lumajang telah memperpanjang status tanggap darurat bencana erupsi Gunung Semeru hingga 2 Desember 2025, sebagai respons terhadap kondisi yang belum stabil serta potensi erupsi susulan.
Sejak 19 November 2025 pukul 17.00 WIB, status Semeru telah ditingkatkan ke Level IV (Awas) menyusul peningkatan aktivitas erupsi yang disertai awan panas. Pada 25 November 2025, tercatat delapan kali erupsi beruntun pada dini hari, dengan kolom abu mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak. Kemudian, pada pagi hari 26 November 2025, Gunung Semeru kembali mengalami dua kali erupsi dengan tinggi kolom abu antara 500 hingga 600 meter.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, berulang kali mengimbau warga yang bermukim di zona merah, khususnya di Desa Sumberwuluh, Jugosari, Kecamatan Candipuro, serta Kecamatan Pronojiwo, untuk melakukan evakuasi mandiri ke lokasi yang telah disiapkan. Kawasan rawan bencana mencakup radius 8 kilometer dari puncak kawah dan sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 20 kilometer dari puncak, yang berpotensi dilalui awan panas dan lahar. Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Jumlah pengungsi fluktuatif, dengan data Pusdalops BPBD Lumajang pada Sabtu, 22 November 2025, mencatat 646 jiwa mengungsi dari total awal 1.187 jiwa. Sementara itu, data lain menyebutkan 956 jiwa mengungsi di Pronojiwo dan Candipuro pada 20 November 2025, tersebar di beberapa titik pengungsian seperti SDN 4 Supiturang, SMPN 2 Pronojiwo, Balai Desa Candipuro, Kantor Kecamatan Candipuro, Balai Desa Oro Oro Ombo, Masjid Ar Rahmah, SDN Sumber Urip 02, dan rumah kepala desa Sumberwuluh. Hingga 21 November 2025, tersisa 260 jiwa di dua posko aktif.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengapresiasi mitigasi bencana yang dilakukan Pemkab Lumajang, yang berhasil menekan angka korban jiwa pada erupsi kali ini, dengan hanya tiga korban luka ringan yang telah mendapatkan perawatan intensif. Peningkatan kesadaran warga dalam merespons imbauan evakuasi dinilai sangat membantu mempercepat dan menertibkan proses pengungsian. Warga diimbau untuk selalu merujuk pada informasi resmi dan menghindari rumor yang tidak terverifikasi.
Sebagai bagian dari strategi mitigasi jangka panjang, BNPB menyarankan pembangunan posko pengungsian terpusat di Lumajang, mencontoh praktik di Gunung Merapi, yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat evakuasi tetapi juga dilengkapi fasilitas untuk ternak dan kegiatan masyarakat sepanjang tahun. Bupati Lumajang Indah Amperawati menyambut baik usulan ini sebagai bagian dari strategi mitigasi berkelanjutan.
Dampak erupsi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur, seperti SDN Supiturang 2 yang hancur total dan tidak akan dibangun kembali di lokasi semula karena masuk zona merah. Pemkab Lumajang mengambil langkah regrouping, mengintegrasikan siswa ke SDN Supiturang 1 untuk memastikan hak pendidikan anak tetap terpenuhi. Selain itu, 21 rumah di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, mengalami rusak berat, dan sekitar 200 rumah lainnya rusak ringan hingga sedang. Akses jalan dari Lumajang-Malang sempat ditutup akibat material longsoran namun kini telah dibuka kembali dengan imbauan kehati-hatian. Pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi lintas sektor untuk memastikan penanganan darurat berjalan cepat, tepat, dan terpadu.