:strip_icc()/kly-media-production/medias/5417837/original/039550700_1763547897-gunung_semeru.jpg)
Gunung Semeru, puncak tertinggi di Pulau Jawa, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan pada Rabu, 19 November 2025, sore, dengan meluncurkan awan panas guguran sejauh 7 kilometer dari puncaknya. Erupsi ini terjadi sekitar pukul 16.00 WIB.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Mukdas Sofian, melaporkan bahwa kolom letusan teramati setinggi sekitar 2.000 meter di atas puncak atau mencapai 5.676 meter di atas permukaan laut. Kolom abu tebal berwarna kelabu cenderung condong ke arah utara dan barat laut. Aktivitas erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi sekitar 16 menit 40 detik.
Melihat peningkatan aktivitas ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mulanya menetapkan status Gunung Semeru pada Level II (Waspada), namun kemudian dinaikkan bertahap hingga mencapai Level IV (Awas) sekitar pukul 17.00 WIB. Hal ini memicu evakuasi massal di beberapa wilayah yang terdampak. Lebih dari 300 warga di tiga desa paling berisiko di Kabupaten Lumajang dievakuasi ke tempat penampungan pemerintah. Desa-desa yang disebut terdampak termasuk Supit Urang dan Oro-Oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo, serta Desa Penanggal di Kecamatan Candipuro. Selain itu, sekitar 178 orang yang terdiri dari 137 pendaki, 15 porter, 7 pemandu, dan 6 petugas pariwisata yang sempat terjebak di dekat pos pemantauan Ranu Kumbolo berhasil diselamatkan.
PVMBG mengeluarkan rekomendasi penting bagi masyarakat. Dilarang melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 8 kilometer dari puncak Semeru. Masyarakat juga diimbau untuk tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan, karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 13 kilometer dari puncak. Selain itu, warga diminta untuk tidak beraktivitas dalam radius 2,5 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar. Potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, harus diwaspadai. Akses Jembatan Gladak Perak juga ditutup akibat aktivitas erupsi ini.
Hingga 19 November 2025, Gunung Semeru tercatat sudah erupsi sebanyak 2.802 kali, menjadikannya gunung api paling aktif di Indonesia tahun ini. Sejak tahun 1967, Semeru hampir terus-menerus menunjukkan aktivitasnya.