Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tragedi Tiwu Pai Wontong: Siswa SMP Ruteng Resmi Hilang Setelah Pencarian Dihentikan

2026-01-18 | 22:14 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T15:14:59Z
Ruang Iklan

Tragedi Tiwu Pai Wontong: Siswa SMP Ruteng Resmi Hilang Setelah Pencarian Dihentikan

Tim SAR Gabungan pada Minggu, 18 Januari 2026, secara resmi menutup operasi pencarian Armendo W. Jeferson (14), seorang siswa SMPK Fransiskus Xaverius Ruteng yang tenggelam di Air Terjun Tiwu Pai Wontong, Desa Toe, Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Minggu, 11 Januari 2026. Korban dinyatakan hilang setelah tujuh hari upaya pencarian tidak membuahkan hasil. Armendo diduga terseret arus deras setelah melompat ke dalam kolam air terjun sekitar pukul 09.30 Wita saat berwisata bersama 10 temannya.

Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, mengonfirmasi penutupan operasi ini dengan menyatakan, "Pada hari ini pencarian resmi ditutup dan korban dinyatakan hilang." Keputusan ini diambil berdasarkan evaluasi tim SAR gabungan bersama keluarga korban serta unsur SAR lain, menyusul nihilnya tanda-tanda penemuan korban. Rahman menambahkan bahwa operasi SAR dapat dibuka kembali jika ditemukan tanda-tanda keberadaan korban. Bupati Manggarai, Heribertus G.L. Nabit, yang turut meninjau lokasi, mengapresiasi kinerja tim SAR dan menyampaikan bahwa pihaknya harus menerima kenyataan karena kondisi cuaca yang tidak mendukung.

Insiden ini terjadi saat korban dan rombongan temannya berwisata mandiri. Kapolsek Reo, Ipda Joko Sugiarto, menegaskan bahwa kunjungan tersebut bukanlah kegiatan sekolah melainkan inisiatif pribadi para siswa. Lebih lanjut, Kapolsek Reo juga mengungkapkan bahwa korban dan teman-temannya membeli tiket masuk meskipun terdapat larangan berkunjung ke Air Terjun Tiwu Pai. Pengelola objek wisata memang telah mengimbau agar masyarakat tidak berkunjung dan bahkan mengumumkan penutupan sementara melalui media sosial, mengindikasikan adanya kesadaran akan potensi bahaya di lokasi tersebut.

Faktor cuaca ekstrem menjadi kendala utama dalam operasi pencarian. Hujan lebat, arus sungai yang deras, dan kondisi air yang keruh menyulitkan tim SAR gabungan, yang terdiri dari personel Polsek Reo, Satpol Airud Polres Manggarai, Babinsa Koramil 1612-03 Reo, Tim SAR dari Labuan Bajo, BPBD Manggarai, dan masyarakat setempat, untuk melakukan penyisiran dan penyelaman secara optimal. Bahkan, teknologi seperti Aqua Eye sempat dikerahkan namun tidak membuahkan hasil. Penyisiran telah dilakukan di pinggir sungai sejauh 8,5 kilometer dan penyelaman hingga kedalaman 3-5 meter.

Kecelakaan seperti yang menimpa Armendo menyoroti urgensi peninjauan kembali standar keselamatan di objek wisata alam di Nusa Tenggara Timur, khususnya di musim penghujan. Air Terjun Tiwu Pai, menurut analisis, tidak terkait dengan mitos tragis lokal, namun insiden ini menjadi pengingat nyata akan pentingnya kewaspadaan. Peristiwa ini juga menggarisbawahi perlunya pengawasan lebih ketat dari pihak sekolah dan orang tua terhadap kegiatan siswa di luar jam pelajaran, terutama ke lokasi berisiko. Data dari Polres Manggarai Barat menunjukkan bahwa pada tahun 2025, 13 warga meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas, sebagian besar adalah pelajar, dan sebagian besar kejadian terjadi di luar jam sekolah, mengindikasikan kurangnya kontrol orang tua. Tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi pengelola wisata untuk lebih tegas dalam menegakkan larangan kunjungan saat kondisi tidak aman, serta bagi masyarakat untuk mematuhi imbauan keselamatan guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.