:strip_icc()/kly-media-production/medias/5468934/original/047383400_1768036030-1001607309.jpg)
Hujan deras yang mengguyur wilayah Gunungkidul sejak Jumat (9/1) siang telah memicu luapan signifikan pada sistem sungai bawah tanah Pantai Baron, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyebabkan sekitar 15 perahu nelayan tenggelam dan satu perahu sempat terseret arus deras ke tengah laut sebelum akhirnya berhasil ditemukan pada Sabtu (10/1) pagi. Peristiwa ini melumpuhkan aktivitas nelayan setempat dan kembali menyoroti kerentanan kawasan pesisir selatan Jawa terhadap fenomena hidrologi ekstrem.
Debit air dari sungai bawah tanah yang bermuara di Pantai Baron, diperparah oleh aliran sungai di atas tebing, masih terpantau tinggi hingga Sabtu pagi, dengan air berwarna cokelat pekat menyembur dari mulut gua muara sungai. Arus deras menerjang area dermaga tempat kapal-kapal nelayan diparkir, menyebabkan kerusakan material yang signifikan. Sekretaris SAR Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah 2 Pantai Baron, Surisdianto, mengonfirmasi insiden tersebut dan menyebutkan bahwa upaya evakuasi kapal-kapal yang tenggelam sedang dilakukan oleh nelayan bersama petugas SAR dan relawan, meskipun hujan yang masih turun memperlambat proses tersebut. Anggota SAR Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah Operasi II Pantai Baron, Eko Suprihatin, menambahkan bahwa nelayan tidak sempat mengevakuasi perahu mereka karena derasnya arus yang datang tiba-tiba pada Sabtu dini hari setelah hujan lebat terus mengguyur sejak Jumat malam.
Ketua Kelompok Nelayan Pantai Baron, Sugeng Titin, mengungkapkan bahwa para nelayan telah memilih untuk tidak melaut dan memarkir kapal di dermaga selama tiga hari terakhir karena kondisi cuaca yang tidak bersahabat. "Kami tidak berani melaut karena cuaca buruk. Meskipun melaut adalah sumber penghasilan utama, keselamatan tetap menjadi prioritas," ujarnya, menyoroti dilema ekonomi yang dihadapi masyarakat pesisir di tengah ancaman bencana. Selain kerusakan perahu, luapan air juga merendam sejumlah warung dan area parkir wisata di sekitar pantai.
Fenomena luapan sungai bawah tanah di Pantai Baron bukanlah kejadian yang baru. Kawasan ini memang dikenal memiliki sistem sungai bawah tanah yang karakteristiknya sering meluap saat musim hujan lebat, terutama di wilayah utara Gunungkidul. Air yang meluap membawa material tanah dan sedimen, mengubah warna air laut di sekitar muara menjadi keruh kecokelatan, sebuah fenomena yang sering disebut sebagai "pantai dua warna" dan terkadang menarik perhatian wisatawan. Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah Operasi II Pantai Baron, Marjono, pada kejadian serupa sebelumnya, menyatakan bahwa luapan seperti ini merupakan hal yang biasa terjadi jika hujan deras di sisi utara menyebabkan sungai bawah tanah di selatan meluap. Insiden luapan dan kerusakan perahu juga pernah terjadi pada Desember 2025 dan Maret 2025.
Kondisi ini menggarisbawahi urgensi mitigasi bencana dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah pesisir Gunungkidul. Surisdianto dan Bidang Linmas Satpol PP DIY, Suhadi, telah mengimbau nelayan dan masyarakat sekitar untuk meningkatkan kewaspadaan mengingat curah hujan yang diperkirakan masih tinggi. Meskipun fenomena ini merupakan siklus alamiah yang dipengaruhi oleh intensitas curah hujan, dampaknya terhadap mata pencarian nelayan dan infrastruktur pesisir memerlukan pendekatan manajemen risiko yang lebih komprehensif. Perencanaan tata ruang kawasan pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta juga telah diidentifikasi sebagai langkah penting dalam mitigasi bencana banjir rob dan abrasi pantai, mengingat potensi ancaman bencana yang tinggi di wilayah ini. Kesiapsiagaan dan adaptasi menjadi kunci bagi keberlanjutan hidup masyarakat yang bergantung pada sektor kelautan dan pariwisata di Pantai Baron.