Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Situbondo Diguncang Longsor Tebing 12 Meter, Dua Rumah Warga Luluh Lantak

2026-01-19 | 01:32 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T18:32:06Z
Ruang Iklan

Situbondo Diguncang Longsor Tebing 12 Meter, Dua Rumah Warga Luluh Lantak

Dua rumah warga di Dusun Krajan, Desa Alas Tengah, Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, mengalami kerusakan parah setelah tertimpa material longsor dari tebing setinggi 12 meter pada Sabtu malam, 17 Januari 2026, sekitar pukul 22.00 WIB. Peristiwa yang dipicu hujan deras berkepanjangan disertai angin kencang ini tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka, namun menyebabkan kerugian materiil dan meningkatkan kekhawatiran akan potensi bencana susulan di wilayah lereng Gunung Argopuro tersebut.

Koordinator Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Situbondo, Puriyono, pada Minggu, 18 Januari 2026, mengonfirmasi bahwa timnya telah melakukan asesmen di lokasi kejadian. Ia merinci, rumah milik Surinten (69) dan Jariyono (51) terdampak langsung oleh dorongan material tanah dan rumpun bambu yang longsor. Rumah Surinten dilaporkan bergeser hingga empat meter pada bagian depan, sementara dapur rumah Jariyono mengalami kerusakan cukup serius akibat hantaman longsoran. Meskipun keduanya terbuat dari material semi-permanen dan disebut "rusak ringan" oleh BPBD, beberapa laporan menggambarkan kerusakan tersebut sebagai "rusak parah", dengan total kerugian materiil ditaksir mencapai Rp10.000.000. Pemilik rumah berhasil menyelamatkan diri setelah mendengar suara gemuruh keras sesaat sebelum longsor menerjang.

Insiden ini bukan kali pertama Situbondo dihantam longsor, menyoroti kerentanan geografis wilayah tersebut. Desa Alas Tengah, yang berada di lereng Gunung Argopuro, secara geologis memang dikenal memiliki kondisi tanah yang labil, terutama saat diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Dalam beberapa bulan terakhir saja, Situbondo telah mencatat beberapa kejadian longsor serupa. Pada awal Januari 2026, tanah longsor juga terjadi di dua lokasi berbeda. Bahkan, pada Desember 2025, longsor menimpa rumah warga di Desa Semambung, Kecamatan Jatibanteng, serta di Kecamatan Sumbermalang itu sendiri. Seorang warga terdampak, Asmui, bahkan menyatakan bahwa peristiwa serupa pernah terjadi pada tahun 2023, namun kerusakan kali ini dinilai lebih parah dan kondisi rumah-rumah di sana sudah tidak aman untuk ditempati.

Kondisi ini menghadirkan tantangan mitigasi bencana yang signifikan bagi pemerintah daerah. Kepala Pelaksana BPBD Situbondo, Sruwi Hartanto, melalui Puriyono, secara konsisten mengimbau masyarakat, khususnya yang bermukim di daerah perbukitan dan lereng tebing, untuk meningkatkan kewaspadaan. BPBD Situbondo bahkan telah mendirikan tenda darurat di lokasi bencana untuk mengamankan warga dari potensi longsor susulan, mengingat tingkat kerawanan longsor di kawasan Desa Alas Tengah. Peristiwa berulang ini mengindikasikan bahwa tindakan jangka panjang yang lebih komprehensif, seperti kajian geologis mendalam, penataan ruang berbasis mitigasi bencana, serta kemungkinan program relokasi bagi permukiman di zona merah, mungkin perlu dipertimbangkan untuk melindungi nyawa dan harta benda warga di masa mendatang. Tanpa intervensi struktural dan kebijakan adaptif yang berkelanjutan, ancaman longsor akan terus membayangi masyarakat di lereng-lereng Situbondo setiap kali musim hujan tiba.