Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Puncak Arus Balik Isra Miraj Lumpuhkan Arteri Sukabumi-Bogor Sepanjang 4 KM

2026-01-18 | 22:00 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-18T15:00:58Z
Ruang Iklan

Puncak Arus Balik Isra Miraj Lumpuhkan Arteri Sukabumi-Bogor Sepanjang 4 KM

Gelombang balik libur panjang Isra Miraj 2026 memicu kemacetan parah di jalur arteri Sukabumi-Bogor, Jawa Barat, sejak Jumat, 16 Januari, hingga Minggu, 18 Januari 2026, dengan antrean kendaraan mengular hingga beberapa kilometer di sejumlah titik krusial. Kepadatan signifikan terjadi terutama di sekitar Exit Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) ruas Parungkuda, Simpang Ratu Cibadak, dan pasar tradisional di sepanjang jalur utara Sukabumi, menahan laju ribuan kendaraan yang didominasi oleh wisatawan yang kembali menuju Jabodetabek.

Volume kendaraan yang melonjak drastis selama libur nasional yang berangkaian dengan akhir pekan ini mengubah jalur arteri yang vital menjadi lautan kemacetan. Pada hari pertama libur, Jumat, 16 Januari 2026, dilaporkan sekitar 40.000 kendaraan memadati kawasan Puncak Bogor saja, belum termasuk jalur-jalur lain yang menuju Sukabumi. Kepadatan serupa juga terpantau di Gerbang Tol Cikampek Utama, yang menunjukkan lonjakan lalu lintas signifikan menuju wilayah timur Trans Jawa. Meskipun terjadi lonjakan kendaraan di Jalan Layang Mohammed Bin Zayed (MBZ) yang didominasi arus keluar Jakarta, kemacetan di jalur Sukabumi-Bogor tetap menjadi sorotan utama.

Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres Sukabumi, AKP Arif Saepul Haris, mengakui bahwa skema rekayasa lalu lintas satu arah (one way) yang diterapkan secara situasional di Sukabumi Utara saat long weekend Isra Miraj 2026 belum sepenuhnya mengurai kemacetan. "Di sejumlah titik penutupan arus, kendaraan justru mengular hingga beberapa kilometer, terutama dari arah yang ditahan sementara," ujar Arif. Rekayasa lalu lintas juga telah disiapkan untuk mengurai kepadatan di jalur utara Sukabumi, dengan penempatan personel di titik-titik krusial seperti Simpang Ratu hingga Exit Tol Parungkuda.

Kemacetan di jalur arteri Sukabumi-Bogor, khususnya setelah keluar dari Exit Tol Parungkuda, merupakan masalah kronis yang kerap terjadi setiap libur panjang atau akhir pekan. Direktur Utama PT Trans Jabar Tol (TJT), Abdul Hakim Supriyadi, menjelaskan bahwa penyebab kemacetan bukan terletak pada jalur tol itu sendiri, melainkan pada titik-titik setelah kendaraan keluar tol yang berdekatan dengan pusat aktivitas masyarakat, seperti Pasar Cibadak. Penyempitan jalur dari empat lajur menjadi dua setelah exit tol Parungkuda menciptakan efek "bottle neck" yang mudah memicu penumpukan kendaraan. Selain itu, keberadaan kawasan industri di sepanjang jalur Sukabumi Utara dengan ribuan pekerja yang berangkat dan pulang secara bersamaan turut memperparah kondisi lalu lintas harian, di luar lonjakan wisatawan.

Fenomena kemacetan ini bukan hal baru. Bahkan, pada momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, jalur arteri Sukabumi-Bogor juga mengalami kepadatan signifikan dengan 189 ribu kendaraan terpantau masuk ke Sukabumi melalui Tol Bocimi. Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol. Rudi Setiawan, sebelumnya telah menyoroti Exit Tol Parungkuda sebagai titik krusial yang berpotensi menimbulkan "double spot kemacetan" karena penyempitan jalan dan perbaikan jembatan.

Implikasi kemacetan ini meluas melampaui sekadar kerugian waktu bagi pengendara. Bagi masyarakat lokal, khususnya pedagang di sekitar Pasar Cibadak dan Cicurug, kemacetan dapat menghambat distribusi barang dan aktivitas ekonomi sehari-hari. Sebuah studi kasus mengenai dampak kemacetan di Kabupaten Bogor periode 2011-2015 menunjukkan bahwa peningkatan jumlah kendaraan yang tidak diimbangi perbaikan infrastruktur jalan berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi lokal. Warga Sukabumi juga mengeluhkan bahwa waktu tempuh yang biasanya 30 menit dari Cibolang ke Cibadak bisa menjadi lebih dari satu jam akibat kepadatan.

Berbagai pihak telah mengusulkan solusi jangka panjang untuk mengatasi permasalahan ini. Lembaga kajian UF Center merekomendasikan pembenahan jalur exit tol, penambahan jalur alternatif, hingga penertiban pabrik yang kerap menjadi pemicu kemacetan lokal. Dinas Perhubungan Kabupaten Sukabumi juga dinilai perlu mengoptimalkan pengawasan Analisis Dampak Lalu Lintas (Andalalin) terhadap kawasan industri agar tidak hanya menjadi formalitas. Sementara itu, dengan adanya libur panjang seperti Isra Miraj ini, Kabupaten Sukabumi sendiri sering menjadi destinasi alternatif bagi wisatawan yang menghindari kemacetan Puncak Bogor, namun hal ini justru menambah beban pada jalur arterinya. Koordinasi lintas instansi antara kepolisian, pemerintah daerah, dan pengelola jalan tol menjadi krusial untuk memastikan sistematisasi rekayasa lalu lintas yang lebih efektif serta pengembangan infrastruktur yang berkelanjutan, bukan sekadar memindahkan titik kemacetan.