Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pramono Ungkap Rekor Curah Hujan 280mm Jakut: Paling Tinggi Selama Menjabat

2026-01-20 | 00:51 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T17:51:16Z
Ruang Iklan

Pramono Ungkap Rekor Curah Hujan 280mm Jakut: Paling Tinggi Selama Menjabat

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Senin, 19 Januari 2026, mengungkapkan bahwa curah hujan di Jakarta Utara mencapai 280 milimeter (mm) pada akhir pekan sebelumnya, menjadikannya angka tertinggi selama masa jabatannya sebagai pemimpin ibu kota. Intensitas hujan ekstrem yang terjadi pada Sabtu, 17 Januari, hingga Minggu, 18 Januari 2026, menyebabkan hampir 80 persen wilayah Jakarta Utara terendam banjir.

Genangan air meluas di berbagai titik vital, termasuk Jalan RE Martadinata yang mencapai ketinggian sepaha orang dewasa, Kali Ancol yang menggenangi badan jalan, dan Jalan Gunung Sahari dengan ketinggian air setinggi lutut orang dewasa. Selain curah hujan yang sangat tinggi, kondisi ini diperparah oleh fenomena kenaikan tinggi muka air laut (rob) di wilayah pesisir Jakarta Utara. Wali Kota Jakarta Utara Hendra Hidayat mengonfirmasi bahwa genangan air memiliki variasi ketinggian di seluruh wilayahnya.

Menanggapi situasi darurat ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera mengimplementasikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang telah berlangsung sejak 15 Januari dan direncanakan hingga 22 Januari 2026. Pramono Anung secara langsung memerintahkan tiga kali penerbangan OMC pada Minggu, 18 Januari, karena kondisi atmosfer Jakarta yang sangat pekat. Ia menyatakan bahwa modifikasi cuaca merupakan upaya ilmiah untuk mengurangi intensitas hujan. Pemprov DKI Jakarta juga mengerahkan seluruh pompa, baik stasioner maupun bergerak, serta personel siaga di berbagai titik strategis untuk mempercepat penyedotan air. Pramono Anung meyakini bahwa penanganan banjir kali ini lebih terkoordinasi dan cepat, sehingga dampaknya hanya berupa genangan dan tidak menimbulkan kerusakan besar. Anggaran untuk OMC selama satu bulan telah dialokasikan dari Belanja Tidak Terduga (BTT).

Secara historis, Jakarta, sebagai kota dataran rendah dengan belasan aliran sungai, sangat rentan terhadap bencana banjir. Data curah hujan harian maksimum tahunan di Jakarta Utara, seperti di Desa Warakas, menunjukkan angka tertinggi sekitar 175,40 mm pada tahun 2005, dengan rata-rata sekitar 109,39 mm dalam dua dekade terakhir hingga 2019. Angka 280 mm ini jauh melampaui rata-rata dan rekor sebelumnya, mengindikasikan pergeseran signifikan dalam pola cuaca ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi potensi hujan lebat di Jabodetabek hingga 23 Januari 2026, dipicu oleh kombinasi gangguan atmosfer yang mempermudah pembentukan awan hujan. Pengajar pada Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Rudy Tambunan, menjelaskan bahwa pergeseran pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan selatan, atau Inter-Tropical Convergence Zone (ITCZ), turut mendorong peningkatan intensitas curah hujan ekstrem.

Implikasi jangka panjang dari curah hujan ekstrem seperti ini menuntut adaptasi serius dalam perencanaan kota dan infrastruktur. Kerugian akibat banjir di Jakarta dapat mencapai triliunan rupiah dan menghambat aktivitas ekonomi masyarakat. Presiden Prabowo Subianto, dalam rapat terbatas pada Sabtu, 17 Januari, menginstruksikan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian untuk segera memetakan titik-titik rawan banjir dan menyiapkan langkah mitigasi yang diperlukan, menunjukkan bahwa masalah banjir tetap menjadi pekerjaan rumah utama. Selain faktor curah hujan, penggunaan air tanah berlebihan juga berkontribusi pada penurunan muka tanah, menambah risiko banjir di Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berupaya melalui pembangunan infrastruktur pengendali banjir seperti sistem polder, pengerukan waduk dan kali, serta revitalisasi saluran air untuk menanggulangi ancaman banjir secara terintegrasi. Meskipun demikian, kapasitas infrastruktur pengendalian banjir yang ada saat ini masih belum mampu menampung seluruh curah hujan ekstrem, mendorong perlunya percepatan program Pembangunan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (National Capital Integrated Coastal Development) dan penguatan penanggulangan di tingkat kecamatan dan kelurahan untuk respons yang lebih cepat.