Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Prakiraan Cuaca Jakarta 11 Januari 2026: Hujan Ringan Diprediksi Membasahi Sepanjang Hari

2026-01-11 | 09:36 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-11T02:36:54Z
Ruang Iklan

Prakiraan Cuaca Jakarta 11 Januari 2026: Hujan Ringan Diprediksi Membasahi Sepanjang Hari

Hujan ringan diprediksi akan mengguyur sebagian besar wilayah DKI Jakarta sepanjang hari Minggu, 11 Januari 2026, berpotensi memengaruhi aktivitas warga di tengah puncak musim hujan yang masih aktif. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan mengingat dinamika atmosfer yang mendukung potensi cuaca signifikan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk ibu kota.

Menurut prakiraan BMKG, potensi hujan ringan di Jakarta telah terdeteksi sejak pagi dan diperkirakan akan berlangsung hingga malam hari. Secara spesifik, wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara diproyeksikan mengalami hujan ringan, dengan beberapa area juga berawan tebal. Jakarta Selatan diantisipasi akan menghadapi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Sementara itu, Kepulauan Seribu memiliki potensi hujan petir pada pagi hari, yang kemudian akan berawan tebal dan hujan ringan pada malam hari. Suhu udara di Jakarta hari ini diperkirakan berkisar antara 23 hingga 30 derajat Celcius, dengan tingkat kelembapan yang cukup tinggi. Prakirawan cuaca BMKG Masayu menjelaskan bahwa potensi cuaca signifikan ini dipengaruhi oleh kombinasi dinamika atmosfer yang masih aktif, seperti keberadaan daerah tekanan rendah dan sirkulasi siklonik.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah memperkuat langkah mitigasi dalam menghadapi musim penghujan dan potensi cuaca ekstrem, khususnya selama periode puncak curah hujan yang diprediksi terjadi pada Dasarian I Januari 2026. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada akhir 2025 menekankan pentingnya antisipasi dini untuk meminimalkan dampak bencana hidrometeorologi. Pemprov DKI Jakarta telah menerbitkan Instruksi Sekretaris Daerah (Insekda) Nomor 98 Tahun 2025 tentang Mitigasi Menghadapi Musim Penghujan, yang mencakup kesiapsiagaan dini, penguatan infrastruktur, peningkatan sumber daya, koordinasi lintas sektor, serta sosialisasi dan peringatan dini kepada masyarakat.

Dari sisi infrastruktur, Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta telah menyiagakan 612 unit pompa stasioner dan 590 unit pompa mobil yang siap dikerahkan di titik rawan genangan. Upaya normalisasi dan pemeliharaan rutin saluran makro dan mikro, pengerukan sedimen sungai, serta optimalisasi fungsi pintu air juga terus dilakukan. Sebanyak 1.803 titik sungai dan waduk telah dikeruk dengan volume lebih dari 721 ribu meter kubik untuk meningkatkan kapasitas tampung air. Untuk mengantisipasi banjir rob, sejumlah tanggul mitigasi di wilayah pesisir utara Jakarta juga telah selesai dibangun dan diperkuat.

Jakarta, sebagai wilayah dataran rendah yang dialiri oleh 13 sungai dan sebagian besar berada di bawah permukaan air laut, secara historis memang rentan terhadap ancaman banjir. Data menunjukkan bahwa jumlah wilayah terdampak banjir di ibu kota cenderung stabil dalam lima tahun terakhir, dengan lonjakan signifikan pada 2020 akibat curah hujan ekstrem yang mencapai 377 milimeter per hari, melebihi kapasitas drainase kota yang dirancang untuk menampung 120 milimeter per hari. Curah hujan puncak pada Dasarian I Januari 2026 diperkirakan antara 150–200 mm di sebagian besar Jakarta, dan 200–300 mm di wilayah hulu seperti Bogor, yang dapat meningkatkan risiko banjir kiriman. Hingga Juni 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.048 peristiwa banjir di Indonesia, menjadikannya bencana paling dominan.

Implikasi dari hujan ringan ini meliputi potensi genangan air di sejumlah titik, jalan licin, dan hambatan lalu lintas, terutama pada jam sibuk. Masyarakat diimbau untuk memantau informasi cuaca terkini secara berkala dan mempersiapkan perlengkapan pelindung hujan. Dalam jangka panjang, upaya mitigasi banjir di Jakarta juga melibatkan solusi berbasis alam dalam pembangunan waduk, situ, dan embung, serta kelanjutan proyek normalisasi Sungai Ciliwung yang ditargetkan selesai pada akhir 2024. Perubahan iklim dan pembangunan lahan secara masif terus menjadi faktor penentu dalam memperparah kondisi banjir di masa mendatang, menuntut komitmen berkelanjutan dari pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat.