:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477397/original/082131700_1768819334-127795.jpg)
Dua korban ditemukan dari kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Penemuan korban kedua, seorang perempuan, pada Senin, 19 Januari 2026, menyusul korban pertama berjenis kelamin laki-laki yang ditemukan pada Minggu, 18 Januari 2026. Sementara itu, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulawesi Selatan bergerak cepat mengumpulkan sampel antemortem dari keluarga penumpang untuk proses identifikasi.
Hingga Senin (19/1/2026), DVI Polda Sulsel telah berhasil mengumpulkan data antemortem, termasuk sampel DNA, dari delapan keluarga korban dari total 10 orang yang berada di dalam pesawat. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto menjelaskan bahwa empat keluarga korban mendatangi langsung posko DVI di Jalan Kumala, Makassar, sementara empat lainnya diperiksa di kediaman masing-masing. Proses pengambilan sampel DNA ini bahkan dilakukan lintas provinsi melalui koordinasi dengan Biddokes Polda lain, seperti di Jawa Barat dan Jawa Tengah, untuk mempermudah keluarga korban yang tidak berdomisili di Sulawesi Selatan. Data antemortem ini, yang meliputi rekam medis, rekam gigi, dan DNA, akan dicocokkan dengan data postmortem dari jenazah atau temuan lain di lokasi kejadian untuk memastikan identitas korban.
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) ini hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 13.17 WITA saat dalam penerbangan dari Bandar Udara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar. Pesawat tersebut mengangkut 10 orang, terdiri dari tujuh kru pesawat dan tiga penumpang yang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang sedang menjalankan misi pengawasan sumber daya perikanan melalui udara. Ketujuh kru pesawat diidentifikasi sebagai pilot Capt. Andy Dahananto, kopilot Muhammad Farhan Gunawan, Flight Operation Officer (FOO) Hariadi, teknisi pesawat Restu Adi P dan Dwi Murdiono, serta awak kabin Florencia Lolita dan Esther Aprilita. Sementara tiga penumpang adalah Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyatakan bahwa korban kedua ditemukan di area tebing yang sangat terjal dan curam, sekitar 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung. Kondisi medan ekstrem dan cuaca buruk, termasuk kabut tebal dan angin kencang, menjadi hambatan utama dalam operasi pencarian dan evakuasi. Meskipun dua jenazah telah ditemukan, pihak DVI Polda Sulsel belum menerima penyerahan jenazah maupun bagian tubuh korban dari tim pencarian di lokasi kejadian, sehingga pemeriksaan postmortem belum dapat dilakukan. Basarnas menegaskan bahwa identitas resmi korban akan disampaikan oleh tim DVI setelah proses rekonsiliasi data selesai.
Investigasi awal oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengindikasikan bahwa pesawat diduga menabrak gunung setelah teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, dengan sistem Emergency Locator Transmitter (ELT) pesawat yang diduga rusak sehingga tidak memancarkan sinyal darurat. Pembuat pesawat, ATR, telah menyatakan dukungan penuh terhadap investigasi yang dipimpin otoritas Indonesia dan telah mengerahkan spesialis untuk membantu. Kementerian Perhubungan juga memastikan seluruh awak pesawat dalam kondisi fit dan memenuhi standar kesehatan penerbangan sebelum terbang. Dengan operasi pencarian yang melibatkan lebih dari 1.200 personel gabungan dari Basarnas, TNI, dan Polri, tantangan evakuasi di medan yang sulit ini masih akan terus berlanjut.