:strip_icc()/kly-media-production/medias/5396649/original/040502600_1761754490-WhatsApp_Image_2025-10-29_at_17.51.49.jpeg)
Masyarakat di Kabupaten Sumbawa tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke Mataram untuk mendapatkan layanan kesehatan lanjutan pada akhir tahun 2025. Hal ini menyusul peningkatan status Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Manambai Abdulkadir di Kabupaten Sumbawa dari Tipe C menjadi Tipe B. Peningkatan status ini merupakan komitmen Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk pemerataan layanan kesehatan antara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.
Gubernur NTB, Dr. Lalu Muhamad Iqbal, secara langsung meninjau progres pembangunan fasilitas tambahan di RSUD Manambai Abdulkadir dan memastikan bahwa seluruh pekerjaan ditargetkan selesai pada akhir tahun 2025. Dengan status Tipe B, RS Manambai Abdulkadir akan mampu menyediakan berbagai layanan kesehatan lanjutan yang sebelumnya hanya tersedia di Mataram, seperti perawatan jantung, termasuk pemasangan ring, serta layanan ginjal seperti cuci darah. Diharapkan pada awal tahun 2026, rumah sakit ini sudah resmi berstatus Tipe B dan dapat langsung dimanfaatkan sepenuhnya oleh masyarakat Sumbawa dan Bima.
Selain peningkatan RSUD Manambai Abdulkadir, Pemerintah Kabupaten Sumbawa juga tengah gencar membangun Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sering sebagai rumah sakit Tipe C yang dilengkapi dengan peralatan medis. Pembangunan Gedung C Lantai I dan II di RSUD Sumbawa yang berlokasi di Kawasan Sering, Kecamatan Unter Iwes, menelan anggaran Rp25,9 miliar dan ditargetkan rampung pada 27 Desember 2025. Hingga Juli 2025, progres fisik Gedung C telah mencapai 35,6 persen, sementara pada November 2025, progres pembangunan RSUD Sering secara keseluruhan mencapai sekitar 60 persen. Gedung C ini nantinya akan difungsikan sebagai ruang laboratorium, ruang pemeriksaan medis, dan ruang perawatan intensif. Keberadaan RSUD Sering diharapkan akan memperkuat jangkauan layanan kesehatan dan mengurangi ketergantungan pada fasilitas rujukan di luar daerah. Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, terus mengupayakan kelanjutan proyek ini melalui instruksi presiden (Inpres) mengingat keterbatasan anggaran dari Kementerian Kesehatan. Proyek ini juga berpotensi mendapatkan hibah alat kesehatan senilai Rp105 miliar dari program SIHREN (Strengthening Indonesia's Healthcare Referral Network) untuk penanganan Kanker, Jantung, Stroke, Uronefrologi, dan Kesehatan Ibu Anak (KJSU-KIA), asalkan pembangunan RS Sering mencapai minimal 85 persen pada tahun 2026.
Dukungan untuk infrastruktur kesehatan juga datang dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik tahun anggaran 2025 sebesar sekitar Rp11 miliar. Dana ini dialokasikan untuk pembangunan enam Puskesmas Pembantu (Pustu) baru, rehabilitasi berat tujuh Pustu, pengadaan dua unit ambulans, serta pembangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di enam Puskesmas. Pemerintah daerah berkomitmen untuk menempatkan Pustu di setiap desa dan kelurahan guna mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat. Hingga Oktober 2025, sebanyak 100 unit Pustu telah beroperasi di Kabupaten Sumbawa, dengan enam unit di antaranya dibangun sepanjang tahun 2025.
Meski demikian, tantangan terbesar dalam peningkatan status rumah sakit masih terletak pada ketersediaan sumber daya manusia tenaga kesehatan spesialis. Untuk mengatasi hal ini, DPRD NTB juga mendorong pendirian Fakultas Kedokteran negeri di Pulau Sumbawa sebagai investasi masa depan pendidikan dan kesehatan di wilayah timur NTB. Pemerintah Kabupaten Sumbawa juga terus memperkuat kolaborasi multi sektor untuk optimalisasi pembangunan kesehatan daerah.