Dua pekan setelah diterjang banjir bandang atau galodo, Jorong Toboh, Nagari Malalak Timur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, masih menunjukkan kondisi yang jauh dari pulih. Material galodo berupa lumpur pekat, batang pohon, dan bebatuan hingga kini masih menutupi rumah-rumah warga.
Bencana yang melanda pada Rabu sore, 26 November 2025, telah mengakibatkan korban jiwa di Jorong Toboh, dengan data BPBD Agam mencatat 14 orang meninggal dunia dan tiga lainnya masih dalam pencarian. Kerusakan infrastruktur juga sangat parah; setidaknya 75 rumah di Jorong Toboh rusak berat hingga hanyut terbawa arus. Secara keseluruhan di Kabupaten Agam, bencana hidrometeorologi ini menyebabkan 256 unit rumah hanyut, 511 unit rusak berat, 396 unit rusak sedang, dan 486 unit rusak ringan. Dampak galodo dirasakan secara menyeluruh di seluruh 13 jorong di Malalak, memengaruhi akses transportasi dan roda perekonomian masyarakat, dengan Jorong Toboh mengalami tingkat kerusakan paling signifikan. Sebanyak 11 masjid di Agam juga dilaporkan rusak, termasuk satu di Malalak.
Warga yang terdampak, terutama yang rumahnya hancur dan rusak berat, hingga kini masih mengungsi di rumah-rumah keluarga atau posko pengungsian. Upaya pembersihan material longsor dan lumpur terus dilakukan oleh masyarakat bersama tim gabungan, termasuk personel Polresta Bukittinggi, menggunakan alat manual seperti cangkul dan sekop untuk membersihkan lumpur tebal yang masuk hingga ke halaman dan bagian bawah rumah. Alat berat milik Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga dikerahkan untuk mempercepat pembersihan material lumpur, batu, dan kayu yang menutup jalur utama Jorong Toboh sejak 1 Desember 2025. Namun, proses pemulihan dinilai berjalan lambat karena banyaknya titik longsor dan kondisi cuaca yang masih tidak menentu.
Akses jalur alternatif utama dari Kota Padang menuju Bukittinggi maupun sebaliknya via Malalak masih lumpuh total akibat jembatan yang putus di Toboh dan sejumlah titik longsor di sepanjang jalur tersebut. Bahkan, pada Minggu sore, 7 Desember 2025, banjir bandang susulan dilaporkan terjadi di Malalak, dengan rekaman video menunjukkan arus air dan lumpur kembali bergulung menerjang, menambah kekhawatiran warga akan kerentanan wilayah tersebut meskipun intensitas hujan tidak seekstrem sebelumnya.
Bantuan kemanusiaan terus disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Sumatera Barat memprioritaskan penyaluran bahan pangan, perlengkapan tidur, obat-obatan, serta satu unit gerobak. Perum Bulog juga telah menyalurkan 1 ton beras ke wilayah Malalak. Penanganan darurat terus didorong oleh pemerintah daerah bersama BNPB untuk mempercepat pemulihan dan memastikan bantuan distribusi serta mobilitas masyarakat dapat berjalan lancar. Pemerintah Kabupaten Agam juga telah menyiapkan dua lokasi untuk hunian sementara di Kecamatan Palembayan sebagai bagian dari penanganan bencana hidrometeorologi yang lebih luas.