:strip_icc()/kly-media-production/medias/5371891/original/069180900_1759725773-FotoJet-29_2.jpg)
Operasi evakuasi tujuh pekerja tambang PT Freeport Indonesia (PTFI) yang terjebak di area luncuran material basah tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) di Tembagapura, Mimika, Papua Tengah, dinyatakan selesai setelah berlangsung selama 27 hari. Seluruh tujuh pekerja yang tertimbun ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Insiden tragis ini terjadi pada Senin, 8 September 2025, malam, ketika aliran material basah dalam jumlah besar menutupi akses pertambangan di GBC Extraction 2830 Panel.
Tim penyelamat gabungan dari PTFI, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Polres Mimika, Basarnas, dan BPBD bekerja tanpa henti sejak awal kejadian. Tantangan utama yang dihadapi tim penyelamat adalah kondisi lokasi yang sulit dengan lima tingkatan spiral terowongan dan volume material basah yang mencapai sekitar 800 ribu ton, serta lumpur yang terus bergerak. Komunikasi dengan para korban juga tidak dapat dilakukan karena kerusakan CCTV dan peralatan pendukung lainnya.
Lima jenazah pekerja ditemukan pada Minggu, 5 Oktober 2025, yang menandai berakhirnya operasi pencarian. Kelima pekerja tersebut merupakan karyawan PT Redpath Indonesia, yaitu Zaverius Magai, Holong Gembira Silaban, Dadang Hermanto, Balisang Telile (warga Afrika Selatan), dan Victor Bastida Ballesteros (warga Chili). Sebelumnya, dua jenazah pekerja lainnya, Wigih Hartono dan Irawan, yang merupakan karyawan PT Cita Contract, telah ditemukan pada Sabtu, 20 September 2025.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menyampaikan apresiasi kepada tim penyelamat atas kerja keras mereka dalam kondisi yang sangat menantang dan memastikan pendampingan penuh bagi keluarga semua pekerja yang menjadi korban. Jenazah empat pekerja akan diterbangkan ke Jakarta untuk kemudian dikebumikan di kampung halaman masing-masing, sementara jenazah Zaverius Magai akan dimakamkan di Kuala Kencana, Mimika.
Insiden ini mengakibatkan penghentian operasional di tambang bawah tanah GBC, Deep Mill Level Zone (DMLZ), Deep Ore Zone (DOZ), dan Big Gossan. Penilaian awal menunjukkan adanya penundaan produksi yang signifikan pada kuartal IV-2025, dengan pemulihan yang diperkirakan akan berjalan perlahan selama tahun 2026 dan operasi kembali normal pada tahun 2027. Tambang Big Gossan dan DMLZ yang tidak terdampak diharapkan dapat kembali beroperasi pada pertengahan kuartal IV-2025. Pemerintah melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga telah mengirimkan tim investigasi ke lokasi untuk mengecek dan menganalisis insiden ini.