Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Penemuan Kotak Hitam ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung: Kunci Ungkap Tragedi

2026-01-21 | 16:49 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-21T09:49:26Z
Ruang Iklan

Penemuan Kotak Hitam ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung: Kunci Ungkap Tragedi

Tim khusus gabungan berhasil menemukan kotak hitam pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Rabu, 21 Januari 2026, pukul 11.00 Wita. Perangkat vital yang terdiri dari Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) tersebut ditemukan di bagian ekor pesawat yang terperosok di jurang sedalam 131 hingga 150 meter dari puncak gunung. Penemuan ini diharapkan menjadi kunci utama bagi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengungkap penyebab pasti insiden nahas yang menewaskan seluruh sepuluh orang di dalamnya.

Asisten Operasi Kodam XIV Hasanuddin, Kolonel Inf Dody Triyo Hadi, mengonfirmasi penemuan tersebut di Posko Operasi SAR gabungan di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Pangkep, menyebutkan bahwa kotak hitam ditemukan dalam kondisi utuh dan telah berhasil dilepas dari dudukannya untuk proses evakuasi lebih lanjut. Sebelumnya, tim SAR gabungan telah mengidentifikasi lokasi ekor pesawat tempat kotak hitam diyakini berada sejak Selasa, 20 Januari 2026, namun medan yang ekstrem dan cuaca buruk menghambat upaya penjangkauan.

Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT, yang disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk misi surveilans, hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, saat dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar. Puing-puing pesawat kemudian ditemukan sehari setelahnya di area Gunung Bulusaraung, yang merupakan perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, sekitar 26,49 kilometer dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin. Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono, mengindikasikan dugaan awal kecelakaan masuk kategori controlled flight into terrain (CFIT), di mana pesawat dalam kondisi terkendali namun menabrak medan. Kondisi cuaca ekstrem, termasuk hujan deras dan kabut tebal, juga disebut menjadi salah satu faktor yang akan dianalisis dalam investigasi KNKT.

Insiden ini menyoroti kompleksitas operasi penerbangan di wilayah bergunung dan tantangan dalam upaya pencarian serta evakuasi. Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, sebelumnya menyatakan kesulitan dalam menjangkau lokasi kecelakaan karena medan yang terjal dan terpencil, bahkan memerlukan lebih dari satu hari perjalanan darat. Hingga Selasa, 20 Januari 2026, dua korban dari total tujuh awak dan tiga penumpang KKP yang berada di pesawat telah berhasil ditemukan, meskipun Basarnas telah mengonfirmasi tidak ada korban yang selamat dari kecelakaan tersebut.

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, memastikan pesawat ATR 42-500 tersebut dalam kondisi laik terbang sebelum insiden, meskipun pada Jumat, 16 Januari 2026, pesawat sempat mengalami kendala mesin minor di Bandara Halim Perdanakusuma yang telah diperbaiki dan dinyatakan layak terbang kembali. Penemuan kotak hitam ini krusial untuk mengunduh data penerbangan dan rekaman percakapan kokpit, yang akan memberikan gambaran komprehensif mengenai detik-detik terakhir penerbangan dan faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan. Hasil investigasi KNKT nantinya tidak bertujuan untuk mencari pihak yang bersalah, melainkan untuk mengidentifikasi penyebab kecelakaan, mengidentifikasi faktor teknis, manusia, dan lingkungan, serta memberikan rekomendasi keselamatan guna mencegah insiden serupa terulang di masa depan.