Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

InJourney Akselerasi Pariwisata Hijau, Target Pangkas 4.000 Ton Emisi Karbon

2026-01-21 | 16:57 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-21T09:57:56Z
Ruang Iklan

InJourney Akselerasi Pariwisata Hijau, Target Pangkas 4.000 Ton Emisi Karbon

PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 4.000 ton CO2e sepanjang tahun 2026 melalui serangkaian inisiatif pariwisata berkelanjutan di seluruh ekosistem bisnisnya. Komitmen ini diumumkan bertepatan dengan ulang tahun keempat holding BUMN tersebut, menegaskan arah strategis perusahaan untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan di tengah proyeksi peningkatan kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Direktur Utama InJourney, Maya Watono, pada Senin, 19 Januari 2026 di Jakarta, menyatakan bahwa skala operasional perseroan, yang mencakup pengelolaan 37 bandara dengan 157 juta penumpang pada tahun 2024 dan 98 juta kunjungan ke destinasi wisata pada tahun yang sama, menghasilkan jejak karbon yang signifikan. "Sebagai holding BUMN aviasi dan pariwisata, kami memiliki tanggung jawab besar untuk melestarikan Indonesia, baik dari sisi budaya maupun alam. Inilah legacy yang ingin kami wariskan untuk generasi penerus," ujar Maya, menambahkan bahwa dampak ekonomi yang besar dari pariwisata dapat diminimalkan dampaknya terhadap lingkungan. Target pengurangan emisi 4.000 ton CO2e ini merupakan langkah nyata yang akan dilaksanakan tahun ini, bukan sekadar seremoni.

Upaya mitigasi emisi karbon InJourney mencakup berbagai program spesifik. Salah satu inisiatif kunci adalah transisi energi, di mana perusahaan berencana mengganti sumber energi listrik dengan panel surya di seluruh 37 bandara yang dikelola InJourney Aviation. Inisiatif ini diproyeksikan dapat menurunkan sekitar 2.000 ton CO2e. Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) telah diterapkan di sembilan bandara utama, menghasilkan energi terbarukan sebesar 10.760 MWh per tahun. Selain itu, InJourney akan mempercepat adopsi kendaraan listrik di aset-aset destinasi wisata, menerapkan sistem daur ulang air, pengelolaan limbah padat berbasis ekonomi sirkular, serta penanaman 40.000 bibit mangrove di kawasan Mandalika, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Dua, Bali. Untuk memastikan akuntabilitas, InJourney juga menyiapkan sistem pemantauan melalui dashboard untuk mengukur emisi karbon dan carbon offset yang telah dilakukan.

Secara global, sektor pariwisata diperkirakan menyumbang sekitar 8% dari total emisi gas rumah kaca (GRK) global, atau sekitar 2,5–3% dari total emisi CO2e global jika tidak memasukkan rantai pasok pendukung pariwisata. Di Indonesia, sektor pariwisata merupakan salah satu penopang perekonomian yang signifikan, dengan proyeksi kontribusi terhadap PDB mencapai 4,5 hingga 4,7 persen pada tahun 2026. Namun, pertumbuhan ini juga membawa dampak negatif terhadap lingkungan, termasuk degradasi ekosistem akibat over-tourism, pembangunan infrastruktur yang merusak habitat alami, peningkatan volume sampah, dan kerusakan terumbu karang. Oleh karena itu, komitmen InJourney terhadap pariwisata berkelanjutan menjadi relevan dalam konteks target pemerintah Indonesia untuk mencapai net zero emission (NZE) serta visi Indonesia Emas 2045 yang menekankan keberlanjutan.

Komisaris Utama InJourney, Iwan Setyawan, menegaskan bahwa pariwisata tidak cukup hanya dikelola, tetapi harus dikaryakan untuk menciptakan pengalaman, memberi makna, dan meninggalkan dampak positif. Visi InJourney adalah membangun ekosistem aviasi dan pariwisata nasional yang inklusif dan bertanggung jawab, dengan menempatkan keberlanjutan sebagai fondasi utama strategi bisnis masa depan. Ini juga mencakup pembangunan sumber daya manusia yang cakap dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip keberlanjutan. Inisiatif-inisiatif ini diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat ketahanan lingkungan dan efisiensi sumber daya, meninggalkan warisan hijau yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.