:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480063/original/093656900_1769015284-Screenshot_2026-01-21-23-09-06-83.jpg)
Akses utama jalan darat yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali lumpuh total pada Rabu malam, 21 Januari 2026, setelah tanggul sungai di Dusun Kembangsambi, Desa Pasir Putih, Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, jebol. Peristiwa yang dimulai sekitar pukul 19.30 WIB ini terjadi akibat luapan air sungai dari pegunungan yang deras membawa material batu dan pasir, menutup seluruh badan Jalan Raya Pantura. Hujan deras yang mengguyur wilayah Situbondo sejak sore hari memicu peningkatan debit air yang signifikan, menyebabkan ambrolnya tanggul.
Koordinator Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Situbondo, Puriyono, membenarkan kejadian tersebut, menyebutkan bahwa material batu dan pasir secara total menutup akses jalan raya. Hingga pukul 21.00 WIB, kendaraan dari arah Surabaya maupun Banyuwangi tidak dapat melintas, menimbulkan antrean panjang. BPBD Situbondo mengeluarkan imbauan bagi para pengguna jalan untuk segera menepi atau mencari jalur alternatif guna menghindari penumpukan kendaraan yang lebih parah. Situasi ini juga berdampak pada lima kecamatan lain di Situbondo yang terendam banjir, yaitu Banyuglugur, Besuki, Mlandingan, Bungatan, dan Kendit, dengan ketinggian air mencapai 30 hingga 70 sentimeter, bahkan disertai longsor di beberapa titik.
Insiden jebolnya tanggul sungai dan lumpuhnya Jalur Pantura Situbondo bukanlah kejadian tunggal. Puriyono menegaskan bahwa insiden serupa "jebol lagi seperti tahun sebelumnya", mengindikasikan masalah infrastruktur yang berulang di wilayah tersebut. Pada awal Januari 2025, lokasi yang sama di Dusun Kembangsambi juga mengalami kelumpuhan akibat dua kali jebolnya tanggul aliran sungai dari Gunung Putri dalam waktu dua hari, membawa material batu dan pasir yang mengganggu lalu lintas secara parah. Sejarah bencana serupa juga tercatat, seperti pada Februari 2014 ketika longsor menutup Jalur Pantura Situbondo selama 15 jam. Kondisi topografi Situbondo, dengan adanya pegunungan di selatan dan pesisir di utara, menjadikannya rentan terhadap bencana hidrometeorologi, baik banjir luapan sungai maupun banjir rob.
Dampak kelumpuhan Jalur Pantura ini melampaui hambatan lalu lintas. Sebagai salah satu koridor ekonomi vital yang menghubungkan Jawa dengan Bali, terputusnya jalur ini berpotensi menyebabkan kerugian ekonomi signifikan. Distribusi logistik, pariwis, dan mobilitas masyarakat terhambat, yang secara langsung memengaruhi sektor perdagangan dan jasa di wilayah tersebut. Selain itu, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Situbondo, Timbul Surianto, mengimbau warga untuk selalu berhati-hati dan menghindari aktivitas di sekitar sungai dan jembatan karena risiko arus deras serta kontur tanah yang tidak terlihat. Upaya pendataan kerusakan rumah dan fasilitas umum lainnya masih terus dilakukan di tengah intensitas hujan yang masih cukup deras. Meskipun Pemerintah Kabupaten Situbondo telah merencanakan pembangunan tangkis ombak di pesisir Jangkar untuk mengatasi banjir rob yang berulang menggunakan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) senilai Rp 200 meter dan tinggi 3 meter, penanganan komprehensif untuk tanggul sungai dari pegunungan yang sering jebol masih menjadi tantangan yang memerlukan perhatian serius dan solusi jangka panjang. Penanganan darurat fokus pada pembersihan material dan pengaturan lalu lintas.