
Banjir bandang menerjang Kampung Cipeusing, Desa Cimerang, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, pada Minggu sore, 28 Desember 2025, menghanyutkan satu rumah warga, merusak parah lima lainnya, dan menenggelamkan ternak serta lahan pertanian siap panen. Peristiwa ini terjadi setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras sejak siang hari, menyebabkan luapan Sungai Cimerang yang mencapai ketinggian air hingga 1,5 meter. Seluruh harta benda milik Kiki Nurpalah (27), termasuk rumah peninggalan orang tuanya dan hewan ternak ayam, lenyap tersapu arus deras.
Kepala Desa Cimerang, Nyanyang Rismana, menyatakan bahwa banjir kali ini merupakan yang terparah dalam sejarah Desa Cimerang. Selain lima rumah rusak parah dan satu hanyut, sembilan rumah lainnya mengalami kerusakan sedang, sembilan ekor domba ternak warga hilang, dan ribuan ikan di lima kolam hanyut terbawa arus. Lahan pertanian seluas 2,5 hektare yang seharusnya memasuki masa panen kini tertutup material lumpur dan bebatuan besar. Warga terdampak seperti Ketua RW Rustaman (53) menggambarkan suasana saat kejadian sebagai "cukup mencekam" dan banyak warga tidak sempat menyelamatkan harta benda mereka. Ia juga menambahkan bahwa banjir tahun ini jauh lebih parah dibandingkan kejadian serupa pada 2013.
Bencana hidrometeorologi ini bukan fenomena tunggal di Sukabumi. Dalam beberapa minggu terakhir, sejumlah wilayah lain di Kabupaten Sukabumi juga dilanda banjir dan longsor, termasuk di Kecamatan Nyalindung di mana sebuah jembatan penghubung di Kampung Karikil, Desa Bojongsari, hanyut, mengakibatkan satu kampung terisolasi dan beberapa rumah tertimbun longsor pada 28 Desember 2025. Di Kecamatan Simpenan, 16 rumah warga hanyut akibat luapan Sungai Cidadap pada 18 Desember 2025, memaksa 75 keluarga mengungsi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat bencana serupa melanda sembilan kecamatan lainnya di sepanjang Desember 2025.
Deputi Bidang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto, mengidentifikasi curah hujan ekstrem di atas 100 mm dalam waktu singkat dan keberadaan bibit siklon tropis di barat daya Pulau Sumatra sebagai dua faktor utama penyebab banjir bandang di Sukabumi. Namun, analisis lebih lanjut menunjukkan adanya faktor-faktor pemicu jangka panjang. Sungai-sungai di Sukabumi, seperti Cipalabuan, mengalami pendangkalan akibat penumpukan sampah dan penyempitan aliran. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam kesempatan terpisah pada Oktober 2025, menyoroti pembukaan lahan secara ilegal sebagai penyebab kerusakan alam yang memicu bencana di Sukabumi. Studi dari BNPB pada September 2025 juga menggarisbawahi bahwa berkurangnya daerah resapan dan ruang terbuka hijau turut memperparah dampak banjir bandang di wilayah tersebut.
Secara historis, Sukabumi memiliki rekam jejak panjang kerentanan terhadap bencana banjir, dengan catatan sejak 1894. Peristiwa banjir bandang dan longsor telah berulang kali terjadi, termasuk pada 2020 di Cicurug akibat luapan Sungai Citarik dan pada 2024 di Sukabumi Selatan yang merendam ratusan rumah. Pola bencana yang berulang ini menuntut strategi penanganan berkelanjutan.
Dalam menghadapi ancaman bencana yang terus meningkat, Pemerintah Kota Sukabumi telah mengintensifkan program kesiapsiagaan dan mitigasi bencana, termasuk perbaikan infrastruktur dan optimalisasi program Kelurahan Siaga Bencana di 33 kelurahan. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, menegaskan pentingnya evakuasi cepat dan koordinasi antarpihak serta mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan. Kapolsek Purabaya, IPTU Ruslan Hermawan, juga mengimbau warga agar tidak panik namun tetap waspada dan siap melakukan evakuasi diri jika ada tanda-tanda banjir susulan. Tantangan pemulihan pasca-bencana tetap besar, dengan kebutuhan mendesak seperti air bersih, makanan siap saji, pakaian, serta seragam sekolah bagi anak-anak yang kehilangan segalanya. Implikasi jangka panjang juga mencakup kerugian ekonomi akibat gagal panen dan kerusakan infrastruktur yang memutus akses vital warga. Tanpa upaya serius dalam tata ruang, pengelolaan lingkungan, dan mitigasi risiko, Sukabumi akan terus menghadapi siklus bencana yang merugikan.