:strip_icc()/kly-media-production/medias/5422393/original/053433700_1763980734-Rafflesia_Pricei__2_.jpeg)
Berbeda dengan narasi umum tentang kelangkaan ekstrem bunga Rafflesia di berbagai belahan dunia, kondisi di Kalimantan menawarkan pandangan yang lebih optimis, di mana flora parasit unik ini masih relatif mudah ditemukan. Penemuan-penemuan yang sering terjadi di berbagai wilayah Borneo secara signifikan menolak mitos kelangkaan absolut yang sering menyertai bunga berukuran raksasa ini.
Di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara, misalnya, spesies Rafflesia pricei secara konsisten menunjukkan keberadaannya, bahkan di area yang berdekatan dengan permukiman masyarakat. Frekuensi kemunculan bunga ini di TNKM jauh lebih tinggi dibandingkan dengan spesies Rafflesia lainnya di Indonesia, dengan puncaknya sering terjadi pada bulan Agustus. Keberadaan Rafflesia pricei yang sehat ini membuka perspektif baru tentang ekologi, konservasi berbasis masyarakat, dan potensi ekowisata berkelanjutan. Spesies ini tersebar di wilayah utara Kalimantan, termasuk di Desa Pa' Kidang, Kecamatan Krayan Barat, Kabupaten Nunukan, yang memiliki ikon wisata Buduk Udan berketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut.
Bukti serupa juga terlihat di Kalimantan Barat. Pada Agustus 2020, warga menemukan enam bunga Rafflesia raksasa di hutan Paku, Dusun Ladak, Desa Meragun, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, dengan satu di antaranya sudah mekar sempurna. Lokasi penemuan ini berada di dalam hutan belantara yang membutuhkan waktu tempuh sekitar empat jam dari permukiman warga. Selain itu, Rafflesia arnoldii juga dilaporkan tersebar di beberapa wilayah di Kalimantan.
Kalimantan juga merupakan rumah bagi spesies endemik lainnya, seperti Rafflesia keithii, yang dinamai untuk menghormati Henry George Keith, seorang konservator hutan yang pertama kali mengenali keberadaannya di Kalimantan Utara. Spesies Rafflesia tuan-mudae juga dapat ditemukan di Kalimantan. Sementara itu, di hutan Teluk Sumbang, Kecamatan Bidukbiduk, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup Kalimantan Timur sedang meneliti penemuan bunga Rafflesia yang diduga merupakan spesies baru.
Penemuan-penemuan ini menggarisbawahi bahwa, meskipun Rafflesia secara umum diklasifikasikan sebagai flora langka secara internasional dan Rafflesia arnoldii sebagai Puspa Langka di Indonesia, Kalimantan masih menyimpan populasi Rafflesia yang signifikan. Kehidupan Rafflesia sebagai tumbuhan parasit yang tidak memiliki akar, batang, maupun daun, serta ketergantungannya pada inang liana genus Tetrastigma, menjadikannya sangat bergantung pada kondisi habitat alaminya.
Upaya konservasi menjadi krusial untuk menjaga kelestarian bunga ini. Penelitian yang dilakukan oleh BRIN dan Botanika di Teluk Sumbang, Berau, Kalimantan Timur, bertujuan untuk memastikan spesies, mengumpulkan data populasi dan ekologi, serta melakukan konservasi ex situ. Edukasi publik dan pelibatan masyarakat lokal juga ditekankan sebagai strategi efektif untuk melestarikan Rafflesia dan hutan tropis sebagai habitatnya. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa dengan upaya perlindungan habitat yang berkelanjutan, mitos kelangkaan ekstrem Rafflesia di Kalimantan dapat terus ditolak, menjadikannya salah satu kekayaan alam yang tetap dapat dinikmati dan dipelajari.