:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478686/original/060372200_1768911268-133908.jpg)
Tim SAR gabungan pada Kamis, 22 Januari 2026, mengumumkan penemuan sembilan paket yang disebut "body part" serta terus berupaya mengevakuasi enam korban dari lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di kawasan pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Pesawat dengan rute Yogyakarta-Makassar itu hilang kontak dan jatuh pada Sabtu, 17 Januari 2026, membawa 11 orang yang terdiri dari delapan kru dan tiga penumpang.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa istilah "body part" dalam laporan lapangan merujuk pada bagian dari pesawat maupun bagian dari anggota tubuh korban. Hingga Kamis (22/1/2026), total sembilan paket temuan tersebut berhasil dievakuasi dari area pencarian yang sangat menantang. Selain itu, enam korban masih dalam proses evakuasi oleh tim SAR gabungan, mengingat kondisi medan yang terjal dan cuaca yang tidak menentu menghambat upaya tersebut.
Medan pencarian di Gunung Bulusaraung dikenal sangat ekstrem, ditandai dengan jurang curam, hutan lebat, serta seringnya kabut tebal dan perubahan cuaca yang drastis. Kolonel Inf Dody Triyo Hadi, Asisten Operasi Kodam XIV/Hasanuddin, menyatakan bahwa enam jenazah yang ditemukan tim SAR gabungan tersebar dalam radius 50 meter dari titik penemuan korban pertama, dengan posisi sekitar 250 meter di bawah puncak gunung. Tim menggunakan teknik evakuasi vertikal dan metode jetring untuk mengangkat korban dari lereng curam. Keselamatan personel SAR menjadi prioritas utama dalam setiap langkah operasi, seperti yang ditekankan oleh Syafii.
Dari total korban yang berhasil ditemukan, dua jenazah telah berhasil diidentifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulawesi Selatan. Mereka adalah pramugari Florencia Lolita Wibisono (33) dan staf Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Deden Maulana. Jenazah Deden Maulana telah diserahkan kepada pihak keluarga dan diterbangkan ke Jakarta Selatan. Seluruh temuan korban, baik jenazah utuh maupun paket "body part," selanjutnya akan diserahkan kepada Tim DVI untuk proses identifikasi lebih lanjut sesuai prosedur yang berlaku.
Dalam perkembangan krusial, tim SAR gabungan juga berhasil menemukan kotak hitam pesawat, yang meliputi Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR), pada hari kelima operasi pencarian. Penemuan ini menjadi titik terang penting dalam upaya Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan tersebut. Kotak hitam telah secara resmi diserahkan oleh Basarnas kepada KNKT pada Kamis, 22 Januari 2026, untuk proses investigasi mendalam. Analisis data dari kotak hitam diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi penerbangan terakhir pesawat, termasuk komunikasi pilot, data penerbangan, dan suara di kokpit.
Insiden ini kembali menyoroti kompleksitas operasi SAR di wilayah geografis Indonesia yang menantang dan pentingnya pemantauan keselamatan penerbangan secara berkelanjutan, terutama untuk penerbangan perintis atau carter yang sering melintasi medan sulit. Penyelidikan oleh KNKT akan menjadi kunci untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kecelakaan dan merumuskan rekomendasi guna mencegah insiden serupa di masa depan. Fokus saat ini tetap pada evakuasi seluruh korban dan penyelesaian identifikasi, sebagai langkah awal sebelum laporan akhir investigasi dirilis.