:strip_icc()/kly-media-production/medias/5476304/original/001618700_1768726965-1000931532.jpg)
Seorang pengendara sepeda motor tewas seketika setelah tergelincir dan terlindas sebuah minibus di ruas Jalan Lintas Sumatra (Jalinsum) wilayah Ogan Komering Ulu (OKU) Timur pada Kamis, 16 Januari 2025, sekitar pukul 14.30 WIB. Insiden tragis ini menambah panjang daftar korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas di jalur vital yang menghubungkan provinsi-provinsi di Pulau Sumatra tersebut, menyoroti kembali persoalan kompleks keselamatan jalan yang belum terselesaikan di salah satu arteri transportasi tersibuk di Indonesia.
Kecelakaan yang merenggut nyawa Roni (35), warga Desa Tegal Rejo, Kecamatan Belitang II, OKU Timur, terjadi saat korban melaju dari arah Martapura menuju Belitang. Menurut keterangan saksi mata di lokasi dan laporan kepolisian setempat, sepeda motor Honda Revo yang dikendarai korban kehilangan kendali saat memasuki tikungan tajam, menyebabkannya terjatuh ke jalur berlawanan. Nahas, dari arah berlawanan melaju sebuah minibus Toyota Avanza yang tidak sempat mengerem, dan langsung melindas tubuh korban. Sopir minibus, Dedi (48), saat ini tengah menjalani pemeriksaan intensif oleh Satuan Lalu Lintas Polres OKU Timur.
Peristiwa ini bukan anomali. Data Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menunjukkan bahwa Jalan Lintas Sumatra secara konsisten menjadi salah satu jalur dengan tingkat kecelakaan tertinggi di Indonesia. Sepanjang tahun 2024, misalnya, tercatat lebih dari 5.000 kecelakaan terjadi di wilayah Sumatra, dengan sekitar 1.800 di antaranya mengakibatkan korban meninggal dunia. Angka ini mencerminkan tingginya risiko yang dihadapi pengguna jalan di Jalinsum, sebuah koridor ekonomi yang juga berfungsi sebagai jalur logistik utama. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sumatera Selatan, Kombes Pol Supriadi, dalam kesempatan terpisah pernah menyoroti faktor human error sebagai penyebab dominan, disusul kondisi jalan dan kelayakan kendaraan.
Kondisi infrastruktur Jalinsum yang bervariasi menjadi salah satu penyumbang risiko. Meskipun telah ada upaya peningkatan dan pelebaran di beberapa segmen, masih banyak ruas jalan yang sempit, bergelombang, minim penerangan, dan memiliki marka jalan yang tidak jelas, terutama di daerah-daerah terpencil. Tikungan tajam tanpa rambu peringatan yang memadai atau kondisi permukaan jalan yang licin saat hujan, seperti yang diduga menjadi pemicu kecelakaan di OKU Timur, kerap menjadi perangkap maut bagi pengendara yang tidak familiar atau kurang hati-hati. Selain itu, tonase kendaraan angkutan barang yang sering melebihi batas juga berkontribusi pada kerusakan jalan dan meningkatkan potensi bahaya.
Implikasi dari kecelakaan berulang di Jalinsum melampaui statistik kematian. Setiap insiden menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan, baik bagi individu maupun negara, melalui biaya medis, kehilangan produktivitas, dan kerusakan aset. Lebih jauh, frekuensi kecelakaan juga menciptakan citra negatif dan persepsi bahaya bagi pengguna jalan, terutama bagi para pelancong dan pelaku bisnis yang mengandalkan Jalinsum. Para pakar transportasi telah lama menyerukan pendekatan holistik untuk meningkatkan keselamatan jalan, yang tidak hanya berfokus pada penegakan hukum tetapi juga pada perbaikan infrastruktur berkelanjutan, edukasi keselamatan berlalu lintas yang masif, serta pengawasan ketat terhadap standar kelayakan kendaraan. Dr. Budiarto, seorang pengamat transportasi dari Universitas Sriwijaya, menggarisbawahi bahwa "keselamatan jalan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya polisi. Peran pemerintah daerah, pengusaha transportasi, dan masyarakat sangat krusial dalam menciptakan budaya berlalu lintas yang aman."
Tragedi di OKU Timur ini kembali menegaskan urgensi intervensi komprehensif. Tanpa langkah-langkah konkret dan terkoordinasi dari berbagai pemangku kepentingan, Jalinsum akan terus menjadi jalur yang rentan, di mana nyawa pengendara menjadi taruhan di setiap kilometer yang dilalui. Pemerintah pusat dan daerah perlu mempercepat realisasi proyek-proyek peningkatan jalan, termasuk pemasangan rambu, penerangan, dan barrier yang memadai, sekaligus memperketat pengawasan terhadap praktik berkendara ugal-ugalan dan kondisi kendaraan yang tidak layak jalan. Kecelakaan ini adalah pengingat pahit bahwa di balik setiap insiden, ada cerita keluarga yang hancur dan potensi ekonomi yang hilang, menuntut perhatian serius untuk sebuah jalur yang semestinya menjadi urat nadi perekonomian, bukan jalan kematian.