:strip_icc()/kly-media-production/medias/5433400/original/089198600_1764843437-Ferry_Irwandi_salurkan_bantuan_untuk_korban_banjir_Sumatra.jpeg)
Konten kreator dan aktivis Ferry Irwandi, bersama timnya dari organisasi non-pemerintah (NGO) Kitabisa dan relawan, telah berhasil menerobos daerah-daerah terisolir di Sumatera untuk menyalurkan bantuan senilai Rp 10,3 miliar kepada korban banjir. Dana fantastis ini berhasil dihimpun hanya dalam waktu 24 jam melalui platform Kitabisa dan siaran langsung YouTube.
Aksi kemanusiaan ini menargetkan wilayah-wilayah yang minim bantuan dan sulit dijangkau, dengan prioritas utama diberikan kepada daerah hilir dan pedesaan seperti Aceh Tamiang serta Desa Tualang, Langkat, Sumatera Utara. Sebanyak 2,6 ton logistik awal tiba di Medan sebagai titik distribusi utama.
Menurut Ferry Irwandi, bantuan yang disalurkan tidak hanya berfokus pada kuantitas, melainkan juga kualitas dan kebutuhan spesifik korban yang didapatkan dari masukan langsung di lapangan. Bantuan tersebut mencakup makanan siap makan yang bergizi (bukan mi instan), perlengkapan mendesak untuk ibu dan anak seperti popok, alat bantu menyusui, pakaian dalam, dan pembalut. Selain itu, upaya serius juga dilakukan untuk mengatasi kelangkaan air bersih dengan pengadaan alat filter dan terminal air bersih.
Distribusi bantuan menghadapi sejumlah kendala logistik ekstrem, terutama dalam menemukan angkutan udara. Namun, hambatan tersebut berhasil diatasi berkat dukungan dari Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolairud) Polri yang membantu mengangkut 2,5 ton logistik.
Penggalangan dana yang ditutup pada 2 Desember 2025 ini menarik partisipasi lebih dari 87.000 donatur, menunjukkan respon positif dan dukungan besar dari masyarakat. Ferry Irwandi juga menyampaikan pesan kepada pemerintah agar bekerja lebih komprehensif dalam penanganan bencana, menegaskan bahwa kritik adalah bentuk kepedulian tertinggi.
Banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah menyebabkan dampak yang masif, dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 600 korban jiwa meninggal, 464 orang masih dalam pencarian, 2.600 orang luka-luka, dan satu juta orang mengungsi. Selain itu, ribuan rumah dan ratusan fasilitas pendidikan serta jembatan juga mengalami kerusakan.